The Avenger Hattrick Lovely Man Brokenhearts Modus Anomali Safe

The Avengers

Sutradara : Joss Whedon

Penulis : Joss Whedon, Stan Lee (Comic Book)

Pemain : Robert Downey, Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Tom Hiddleston, Clark Gregg, Cobie Smulders, Stellan Skarsgard, Samuel L. Jackson.

Nick Fury “And there came a day, a day unlike any other. when Earth’s mightiest heroes found themselves united against a common threat, to fight the foes no single superhero could withstand… on that day, The Avengers were born.”

Direktur kepala S.H.I.E.L.D, Nick Fury (Samuel L. Jackson) membentuk tim yang terdiri dari kumpulan para superhero (Marvel). Mereka adalah: Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr), Bruce Banner/Hulk (Mark Ruffalo), Steve Rogers/Captain America (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Natasha Romanoff/Black Widow (Scarlett Johansson) , dan Clint Barton/Hawkeye (Jeremy Renner). Keseluruh superhero tersebut dikumpulkan untuk mencoba menghentikan Loki (Tom Hiddleston) dan Tesseract nya yang ingin menguasai dunia.

ANOTHER PERFECT SUMMER MOVIE!
Film dengan plot sederhana namun dibuat dan dikemas dengan super megah. Film yang dibuat dengan tujuan benar-benar untuk menghibur. The Avengers adalah klimaks setelah munculnya Iron Man (2007), The Incredible Hulk (2008), Iron Man2(2009), Thor (2011), dan Captain America: First Avenger (2011). Kita semua tahu bahwa kemunculan Nick Fury di setiap akhir film-film tersebut di atas, akan ada sebuah film yang super megah yang merupakan penggabungan dari superhero Marvel yang terhebat. Inilah The Avengers!, film yang berhasil digarap dengan baik oleh Joss Whedon (Serenity, 2005).

Lot of action! Lot of humor! Cara Josh Whedon dalam menangani The Avengers benar-benar cerdas. Salah satu film superhero yang cerdas selain The Dark Knight. Gaya visual dan pengarahan Joss Whedon yang spektakuler, dipadu dengan dialog-dialog antar superhero yang cerdas dan tidak membosankan. Inilah yang membuat film ini tak pernah gagal menghibur dari awal sampai akhir.

Seperti penampilannya di dua film sebelum nya sebagai Tony Stark / Iron Man, Robert Downey, Jr melakukan pekerjaan yang sangat baik di sini. Mark Ruffalo pun bisa berperan dengan apik sebagai Bruce Banner walaupun pada awalnya saya agak kecewa karena bukan Edward Norton lagi yang mendapat peran sebagai Bruce Banner, tetapi ketika saya melihat film ini, saya terkejut dengan gaya Mark Rufallo berperan sebagai Bruce Banner. Siapa lagi yang bisa berperan sebagai Captain America sebaik Chris Evans? dan Chris Hemsworth seperti di film sebelumnya bermain baik sebagai Thor. Dan Scarlett Johansson,,, ohh!! saya telah lama menunggu dia di film ini setelah saya pertama kali melihatnya di Iron Man 2 (2009). Jeremy Renner sangat luar biasa sebagai Hawkeye. Dan kali ini Tom Hiddleston (Loki) mendapatkan porsi lebih besar dengan perannya sebagai antagonis utama. Terakhir, Samuel L. Jackson sangat bagus bermain sebagai Nick Fury.

Bagi para pencinta film superhero, pencinta film dengan visual effect yang megah, pencinta film Marvel, pencinta film dengan serentetan ledakan, dan pencinta film dengan dialog cerdas yang menghibur. The Avenger merupakan film yang pas..

Is really worth your money!
The best 2 hours in your summertime!

Rate : 8.5/10

Modus Anomali

Sutradara : Joko Anwar

Penulis : Joko Anwar

Pemain : Rio Dewanto, Marsha Timothy, Surya Saputra, Hannah Al Rasyid

John Evans “Motherfucker…!!!!!!!!!!!!!”

Mendadak John Evans (Rio Dewanto) terbangun di tengah hutan, mendapati dirinya dalam kondisi terkubur dan hilang ingatan. Berlari tanpa arah dan tujuan, John Evans perlahan menemukan petunjuk-petunjuk yang ia pakai untuk memulihkan kembali ingatannya dan mencari tahu bagaimana ia bisa terkubur.
Pertama ia menemukan sebuah video camera dimana didalamnya berisi video seorang wanita hamil yang ditusuk perutnya oleh seorang pembunuh berdarah dingin. Sosok pria bermasker yang berseragam layaknya dokter yang akan melakukan operasi. Meski John Evans sendiri tidak tahu siapa yang ada didalam video itu dan apa maksud dari video itu.

Selanjutnya John Evans bertemu sosok tersebut. John Evans dikejar oleh pembunuh berdarah dingin itu. Lari ditengah hutan yang sunyi dan asing ini tanpa mengetahui dimana jalan keluarnya.


Joko Anwar bukan seorang yang jago membuat film yang komersil, dan selalu berusaha membuat film yang berkualitas. Terbukti meskipun ia telah sukses dengan komedi romantis “Janji Joni” nya, Joko malah berpindah haluan dengan membuat film dengan gaya mystery ala Hollywood, yang biasa disebut dengan “film noir”. 2 Film yang dibuat Joko Anwar setelah “Janji Joni” adalah Deadtime: Kala (2007) dan Pintu Terlarang (2009).

Mungkin definisi film yang sukses menurut Joko Anwar adalah ketika film itu disambut baik dan dipuji oleh para kritikus, bukan karena film tersebut sukses meraup untung yang banyak. Oleh karena itulah, mengulangi “kesuksesan” dua pendahulunya, “Kala” dan “Pintu Terlarang”, Joko Anwar membuat dua project terbarunya yang bernafas sama, yaitu “Modus Anomali” dan “Impetigore”.


“Modus Anomali” jelas filmnya joko banget. Joko dengan cukup berani menyusun serangkaian puzzle yang membuat kita si penonton membantu John Evans menyusun puzzle tersebut. Membuat kita banyak berkata “Oh….” setelah kita berhasil menyusun puzzle tersebut. Memang, sebuah langkah yang sangat berani dan jarang dibuat oleh sineas Indonesia pada umumnya.

Mungkin film ini tidak terlalu komersil dan tidak dapat diterima oleh sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia. Dan film ini pun sebenarnya tidak se mindfuck yang saya kira. Tapi sungguh langkah yang berani dilakukan oleh Joko Anwar dalam usahanya membuat film Indonesia untuk dapat menembus hollywood. Good job Joko Anwar! Maju terus perfilman Indonesia!

Rate : 7/10

The Raid: Redemption

Sutradara : Gareth Evans

Penulis : Gareth Evans

Pemain : Iko Uwais, Ananda George, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, Verdi Solaiman

Pulling a trigger is like ordering a takeout…

Dengan budget Satu Juta Dollar nya, Gareth Evans dan Iko Uwais kembali membawa sebuah ambisi. Yang agaknya ingin membangun kesuksesan yang telah mereka awali sebelumnya lewat “Merantau” di tahun 2009. Kini dalam The Raid: Redemption, Gareth Evans mencampur seni bela diri khas Indonesia, Pencak Silat, dengan sebuah live action ala S.W.A.T.
Dan hasilnya adalah,, sebuah sajian brutal penuh darah, digawangi Iko Uwais yang sepertinya ingin menyaingi Donnie Yen dan Tony Jaa dalam hal bela diri.

The Raid menceritakan tentang 20 orang Elite Squad yang dikomandoi oleh Jaka (Joe Taslim) yang menggempur sebuah gedung di kawasan Jakarta, yang dimana didalamnya berisi kumpulan kriminal, drug dealer, dan gangster yang siap tempur, dipimpin oleh Tama (Ray Sahetapy).
Jaka membawa misi menghancurkan kumpulan kriminal yang telah lama berkeliaran di Jakarta dan membuat kota itu menjadi kota yang tidak nyaman dan rawan. Namun misi tersebut tidaklah mudah untuk diselesaikan karena mengingat sudah beberapa kali Polisi menggerebek tempat itu dan menghasilkan hasil nihil.


The Raid: Redemption, membelalakkan mata kita dan dengan straight menegaskan bahwa sesungguhnya pencak silat bukanlah seni bela diri kampung seperti yang selama ini kita lihat di dunia nyata maupun di televisi Ind*s**r memang untuk anda. Iko Uwais dengan seragam S.W.A.T nya beraksi layaknya seorang elite squad yang menghajar setiap orang yang ada di depannya dan dengan sabetan pisau nya yang membuat kita hampir selalu melihat darah di setiap fight scene nya.


Menonton film ini adalah menonton Iko Uwais beraksi. Menonton film ini adalah menonton pencak silat. Dan Iko Uwais dan pencak silat nya digarap oleh Gareth Evans dengan sentuhan western nya yang ciamik, membuat film ini semakin asik untuk ditonton bukan hanya oleh penonton lokal saja. Apalagi setelah nonstop action ini ditambah scoring dari Mike Shinoda (Linkin Park) yang membuat kesan brutal semakin terasa.

Gareth Evans dengan langkah tegap dan dengan gagahnya membawa film ini ke Toronto International Film Festival, dan berhasil memperoleh award Midnight Madness.
Good job Evans & Uwais! Maju terus perfilman Indonesia!

 

Rate : 8/10

Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street (2007)


Sutradara : Tim Burton

Penulis : John Logan

Pemain : Johnny Depp, Helena Bonham Carter, Alan Rickman

Sweeney Todd “There was a barber and his wife, and she was beautiful. A foolish barber and his wife. She was his reason and his life, and she was beautiful. And she was virtuous. And he was… “

Masih ingat Edward Scissorhands dan Sleepy Hollow? Dua film yang melibatkan dua manusia gothic di dalamnya, mereka adalah sang sutradara “Tim Burton” dan sang aktor “Johnny Depp” . Mengulang kesuksesan film tersebut, pada tahun 2007 mereka kembali berkolaborasi dalam sebuah film horror musikal, Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street. Yang merupakan adaptasi dari british classic horror yang berjudul sama.

Sweeney Todd menceritakan tentang demon barber di daerah Fleet Street, London, bernama Benjamin Barker. Yang mana dia adalah seseorang yang bahagia hidup bersama istri dan anak perempuannya yang baru lahir. Hingga akhirnya Benjamin Barker bertemu Judge Turpin, yang mencintai istri Benjamin Barker. Turpin dengan segala usahanya berhasil memisahkan Benjamin dari istrinya. Benjamin diusir dari London, istrinya hilang entah kemana, dan Joannya, menjadi anak dari Judge Turpin.

Sweeney Todd memperlihatkan sisi musikal dari Tim Burton dan Johnny Depp. Dalam film ini anda akan diperdengarkan suara Johnny Depp yang menyanyi ala Broadway hampir di sepanjang film. Dan sungguh dengan cara yang sangat indah dimana Tim Burton memperlihatkan darah yang mengalir deras dari leher-leher yang di iris Benjamin Barker. Keras namun tetap terkesan gothic. Sentuhan twist di akhir film nya pun cukup mengejutkan.

Apakah Benjamin Barker akan kembali dan berhasil menemukan anak dan istri nya yang hilang??

Rate : 8/10

Janji Joni / Joni’s Promise (2005)


Sutradara : Joko Anwar

Penulis : Joko Anwar

Pemain : Nicholas Saputra, Mariana Renata, Rachel Maryam, Surya Saputra

Joni “gua adalah orang di balik layar, gua orang yang menentukan apakah lo bisa nonton film di bioskop atau enggak”

Males banget saya menonton film ini saat film ini pertama kali keluar. Ngapain juga nonton film komedi dari sutradara dan penulis debutan (Joko Anwar). Saat itu hanya ada dua hal yang membuat saya ingin menonton film ini, yaitu Mariana Renata, dan rambutnya Mariana Renata :D

Ternyata, apa yang saya dapatkan? luar biasa! . Sebuah drama komedi romantis yang menyajikan sebuah petualangan hebat dari Joni (Nicholas Saputra) yang didapatnya hanya dalam satu hari saja. Tentu disini anda tidak akan melihat Nicholas Saputra yang dingin dan kaku seperti di “Ada Apa Dengan Cinta?” Joni, karakter yang dimainkannya adalah seorang pengantar roll film yang ceria dan cinta akan pekerjaannya tersebut. Meski dia harus menerima kenyataan bahwa dia adalah pria berumur 22 tahun dan belum pernah punya pacar.

Suatu ketika di bioskop tempat bekerja Joni, Joni bertemu dengan Angelique (Mariana Renata), seorang gadis yang luar biasa cantiknya gak  ketulungan. Joni perlahan mendekati dan menanyakan namanya. Namun Angelique hanya akan memberi tahu namanya jika Joni memenuhi satu syarat, Joni harus mengantar roll film tepat waktu, dan jangan sampai film yang akan ditontonnya putus di tengah-tengah.

Hanya dengan syarat seperti itu, tentu saja Joni menyanggupi. Itu adalah pekerjaannya sehari hari. Satu tahun Joni menjadi pengantar roll film, belum pernah sekalipun telat, sampai hari sial itu pun terjadi.

Sepertinya seantero kota Jakarta berkonspirasi untuk menggagalkan usaha Joni. Bermula dari sepeda motornya yang dicuri, Joni harus naik taksi ke bioskop. Tapi si Jaka Sembung (Barry Prima) si supir taksi malah mengantar Joni ke rumah sakit karena istrinya akan melahirkan. Petualangan Joni berlanjut terus, mulai dari menjadi seorang figuran film , bertemu Rachel Maryam , dan bertemu Sudjiwo Tejo si seniman gila.

Banyaknya cameo dalam film ini membuat nilai tambah untuk Janji Joni, sebut saja Winky Wiryawan, Tora Sudiro, Aming, Indra Birowo, Indra Herlambang, Wulan Guritno, Ananda Mikola, dan lain-lain.

Singkat kata, film ini bakal membuat anda tertawa hampir dari awal sampai akhir film, yang bahkan bisa didapatkan hanya dari sebuah dialog sederhana..

Rate : 8/10

Magnolia

Sutradara : Paul Thomas Anderson

Penulis : Paul Thomas Anderson

Pemain : Julianne Moore, Tom Cruise, Philip Seymour Hoffman, William H Macy, John C Riely, Jason Robards, Alfred Molina, Luiz Guzman, Philip Baker Hall, Melora Walters.

When the sunshine don’t work, the good Lord bring the rain in…

Menurut saya, ini adalah film terbaik sepanjang masa. Sebuah film yang sangat powerful, lahir dari tangan Paul Thomas Anderson (Boogie Nights, There Will Be Blood). Menceritakan tentang kehidupan dari karakter-karakter yang mungkin jumlahnya lebih banyak dari Nashville, tentang pencarian arti hidup dan kebahagiaan. Tidak ada film lain yang mampu mendefinisikan secara indah 2 kata yang mungkin dianggap tabu dalam kehidupan sehari-hari, namun itulah yang yang nyatanya terjadi dalam kehidupan, Forgiveness & Happiness.

Bagaimana bisa Paul Thomas Anderson, sutradara film ini, yang bahkan umurnya saat itu belum mencapai 30 tahun bisa membuat film yang begitu kompleks, dengan gayanya yang khas dalam pengambilan gambar,  constant moving camera & continuous shot alias long take!

Saya telah melihat banyak jenis film berjenis multi plot, dengan jumlah karakter yang banyak, seperti Crash atau Love Actualy contohnya, tapi tidak ada yang sebagus Magnolia. Lengkap, berisi, menghibur… Semua pemain memainkan bagian penting dalam film ini. Ada Philip Seymour Hoffman sebagai suster, John C Riely, polisi yang termajinalkan dan kesepian yang akhirnya bertemu dengan Melora Walters, seorang pecandu narkoba, dan akhirnya jatuh cinta. Juga Tom Cruise dengan “SEDUCE & DESTROY” nya yang konyol. Dan saya pikir Tom Cruise belum pernah mencapai sebuah level tertinggi dalam sejarah dia berakting, bahkan menurut saya di film ini dia bermain lebih baik daripada ketika ia menjadi Jerry Maguire

PT Andersson menjadikan Magnolia sebuah film berdurasi 3 jam yang sangat tidak membosankan, dan memberikan kejutan fantastis di bagian akhir film. Selain itu film ini didukung juga oleh lagu2 dari Miss Aimee Mann yang semakin membuat film ini terlihat hidup.

Rate : 9/10